DAFTAR JUDUL CERITA

Daftar Judul Cerita
Gairah Istri Tercinta
Gairahku Dengan Mbak Yani
Ibu Mertua Hot
Mertua Pengganti Istri
Pemerkosaan Di Kost
Pengalaman Ngentot Di Bus Malam
Video Pemerkosaan
Perawan Buat Adikku
Perjakaku Buat Bu Tari
Pesta Seks Dengan Adik Pacarku
Sahabat Istriku
Sama-Sama Kesepian
Santi dan Lina
Susuk Pemikat Sukma
Asyiknya Jadi Instruktur
Cerita Kak Zah
Gara Gara Ayam Goreng
Ibu Pacarku dan Tantenya
Kak Linda Tetanggaku Yang Baik
Karyawan Papaku
Kesenangan Yang Menjadi Penyesalan
Mbak Dwi dan Ibunya
Mei Ling Tetanggaku
Muridku dan Mamanya Yang Kesepian
Nani Gadis Kampung
Pak Hamid, Pasienku
Silvana Yang Hot
Sita dan Rina
Tante Ratna dan Mbak Susi
Tergoda Tante Mona
Tertipu Hadiah Mobil
Tini Pembantuku
Windi Teman Adikku
Aku Jadi Penonton Perselingkuhan Istriku
Anit Solehah
Anita Sepupuku
Belah Duren
Bonus Bermain Playstation
Bonus Mengikuti Kursus
Disetubuhi Ayah Tiri
Istriku Dientot Tetanggaku
Istriku Diperkosa Maling
Mengintip Mama ML Sama Tukang Kebun
Nandaku Sayang, Nandaku Hilang
Nikmatnya Keperawanan Rina
Sedapnya Tubuh Adik Istriku
Skandal Keluarga (Ibu Mertua)
Skandal Keluarga (Kakak Ipar)
Tante Linda Mengandung Anakku
Tanteku Yang Haus
Tik.. Tik.. Tik.. Bunyi Hujan Di Atas Ranjang
Aku Selingkuh Lagi
Baby Siter Yang Sexy
Bercinta Dengan Pacar Kakakku Sendiri
Bunga SMA
Cewek Asia Cantik
Dinda dan Seks Pertamanya
Rumah Ku Sorga Ku
Kisah Pengusaha VS Penguasa
Sales Girl
Tante Merry, Mama Temanku
Tradisi
Utang Uang Dibayar Istri
Cara Jitu Ngerayu Cewek
Rahasia Kita Berdua
Nikmatnya Janda Muda
Nikmatnya Bersetubuh Dengan Istri Teman Sendiri
Nikmatnya Anakku
Misteri Ilmu Pelet Nguyup Pejuh
Istriku Selingkuh Dengan Keponakan
Istri Muda Sekdes
Istri Muda Pak RT
Guru Wali Kelas Anakku
Aku dan Tante Mina
Adik Tanteku Yang Lugu
Akibat Menjadi Model
Gadis Sampul
Suster Ngentot
Tetangga Idaman
Bonus Mengintip
Gelora di Kolam Renang
Guru Matematikaku
Dukun Cabul
Nikmatnya Ngentot Bersama Tante
Nikmatnya Adik Temanku
Gairah Seks di Dalam Taksi
Dian, Sekretarisku
Aku dan Sepupu Istriku
Aku Dan Papi Ku
ABG Tetangga
Ampuhnya Ilmu Mak Erot
Anak Buahku Cantik-Cantik
Bercinta Dengan Istri Orang
Bercumbu Dengan Tante Linda
Cewek Seksi Di Dalam MRT
Gairah Tubuh Rina, Anak Teman Bisnisku
Tugas Baru Pembantu Rumahku
Si Montok Tante Anna
Pengalaman Swinger Nikmat
Pelajaran Dari Kakak Silvya
Widget By: [Info Gratis]

Gairah Istri Tercinta

Cerita Dewasa - Aku seorang suami umur 39 tahun dan istriku berumur 40 tahun. Kami mempunyai anak 2 orang, 1 perempuan dan satu laki-laki. Walaupun kami sudah berumur tapi kehidupan sex kami sangat memuaskan. Kami selalu berhubungan sex. Istriku memang berumur 40 tahun tapi bodynya tanggung sexy dan terawat masih kelihatan seperti umur 30 tahun. Aku berpikir untuk memberikan sesuatu yang lain kepada istriku, yaitu aku ingin kami bercinta dengan satu orang lain, bertiga. Dan ini aku sampaikan kepada istriku sebut saja namanya Rina. Namaku sendiri Ricky.

Pertama-tama Rina tidak setuju, tetapi setelah ku bujuk-bujuk kukatakan.
"Mah, ini kita lakukan untuk happy kita saja sayang".
"Yah, pah tapikan saya malu bercinta dengan orang yang belum pernah saya kenal".
"OK, sayang lupakan semua, yang penting saat itu kita mencapai kepuasan. Bagaimana sayang?", setelah kubujuk akhirnya Rina setuju.
"Terserah papah ajalah."
Aku lalu mencium istriku, dan malam itu kami bercinta dan kami melakukannya sampai pagi.

Waktu berjalan terus, sementara aku terus mencari orang yang cocok untuk kami aja bergabung. Suatu hari aku berkenalan dengan seorang guru instruktur senam di kota kami.
Namanya Herman. Orangnya ganteng umurnya masih 26 tahun badanya pun sangat atletis. Beberapa kali pertemuan aku menyampaikan apa rencana kami kepada Herman, dan kulihat dia tidak terkejut.

"Biasa Mas, aku pernah melakukan ini dengan pasangan lain," cerita herman. Oh aku sangat senang sekali, ternyata Herman sangat berpengalaman. Maka kami atur rencana,
Ini akan kami lakukan disalah satu hotel terkenal dikota kami.
Hari Sabtu siang Rina dan aku ngobrol berdua diruang tamu.
"Mah, aku kok rasanya kepengen kita tidur dihotel berdua saja malam ini", Rina menyambut dengan hangat.
"Boleh juga tuh Mas, hitung-hitung bulan madu," katanya.

Kami sepakat memilih Hotel "S" untuk menginap nanti malam.
Sesampai dihotel setelah menyelesaikan administrasi hotel, lalu kami masuk kamar hotel. Rina langsung rebahan diatas tempat tidur yang cukup besar.
Sedangkan aku masuk kedalam kamar mandi untuk menelpon Herman, dan kami beri tahu nomor kamar dan jam berapa dia harus datang.
Didalam kamar aku dan Rina ngobrol dan sekali sekali kami berciuman, Aku meremas payudara Rina dari balik bajunya sambil terus menciumi leher jenjangnya.
Rina mendesah, "aaahh... mas....." sambil berciuman tanganku masuk kebalik baju yang dipakainya.

"Mas?...... aku mau Mas...!" Rok yang dipakai Rina sudah naik sampai memperlihatkan paha Rina yan mulus dan putih, Dan tanganku mengelus-elus lembut memek Rina dari balik celana dalamnya dan aku merasakan cairan kemaluan istriku sudah mulai keluar... yah... oh.... terus Mas..... yahhh... atasnya sayang..."
Tiba2 pintu diketuk dari luar. Kami buru2 merapihkan pakain kami, biasa Rina sambil ngomel,"siapa sih, ngegangu aja?"
Aku membuka pintu, Herman sudah didepan pintu dengan kaos ktetnya memperlihatkan tubuhnya yang atletis.

"Siappa pah?" tanya istriku dari dalam.
"Ini kenalkan teman papah, tadi telpon kebetulan dia ada di hotel ini, jadi papah suruh mampir saja."
"Ini Rina istriku,"
"Aku Herman mbak," sambil menyalami istriku.
Istriku banyak diam, mungkin kesel karena nanggung tadi. Sambil memeluk Rina aku berkata kepada Rina.
"Mah, Herman ini yang akan bergabung dengan kita untuk bercinta. Rina sedikit kaget, tapi setelah kutenangkan dia dapat menerimanya.

Sambil ngobrol sekali-kali aku mencium Rina, pertama-tama Rina sangat risih, tapi lama lama aku dapat merasakan Rina mulai terbiasa, malah membalas ciuman aku.
Herman tersenyum melihat kami berciuman. Aku melihat istriku melirik Herman pada saat kami berciuman. Herman masih duduk disofa sementara kami duduk dipinggir tempat tidur berpelukan menghadap kesofa dimana Herman duduk. Sambil berciuman aku meraba-raba paha mulus istriku. Dan Rina melebarkan kakinya sehingga Herman dapat dengan jelas melihat paha bagian dalam Istriku dan celana dalam Rina.

Herman berdiri menghampiri kami dan jongkok didepan kami. Sementara aku dan Rina terus berciuman dan pelan aku membuka satu persatu kancing kemeja Rina, dan terbukalah dadanya dengan BRa warna hitamnya.
Tiba-tiba Rina tersentak, Rupanya Herman menciumi paha istriku, Rina menegang jilatan Herman terus merambat keatas menyentuh celana dalam istriku. Sementara aku sudah melepas beha Rina dan menciumi sambil menjilati puting teteknya.
"ooooohhh..... yahhhhhh... enak enak Her......jilati memek mbak Her...???" MUlut istriku terus merengek-rengek meminta Herman untuk menjilat memeknya.

Aku merebahkan Rina ditempat tidur sementara kakinya masih menjuntai kebawah dan Herman terus menjilat dan menciumi selangkangan istriku. Rina melebarkan kakinya dan meminta Herman untuk membuka celana dalamnya.
"Iyah.... terus Her.... buka celana dalam Mbak.... jilati memek mbak oooohh.... Mbak mau kontol mu......."
Herman lalu membuka celana dalam Rina..... dan kelihatanlah memek istriku dengan bulu yang rapih terawat dan berkilat, menandakan Rina sudah sangat terangsang.
Istriku sekarang sudah telanjang didepan dua laki-laki yang siap untuk memberikan kepuasan kepadanya. Rina tergolek pasrah sementara kakinya tetap menapak di lantai sehingga memeknya menjadi lebih kelihat menonjol keatas. 

Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

Herman berdiri lalu membuka kaosnya, kelihatan dadanya yang bidang ditumbuhi bulu, Istriku memandang nanar, Herman juga membuka celana panjangnya. Otomatis Herman hanya memakai celana dalam saja,
dan kontolnya yang belum tegang menonjol dan kelihatan jelas dimata istriku. Dan Rina terus melihat kebawah. Sambil berkata "Her...?Mbak mau kontol kamu! Puaskan Mbak Her........" Rina Bangkit dari tempat tidur lalu jongkok didepan Herman.
Istriku menciumi kontol Herman dengan bernapsu..... lalu Rina menurunkan celana dalam Herman, maka kelihatanlah kontol Herman begitu dekatnya denga muka Istriku. Rina menjilati kontol Herman mulai dari pangkal sampai ujungnya.

Terus berulang-ulang."ohhhhh.... enak Mbak .... enak sekali lidah kamu Mbak.." erang Herman. Istriku memasukan kontol Herman kedalam mulutnya berulang kali.
"Ahhhhh enak..... sekali Mbak" sambil tangan Rina mengocok-ngocok kontol Herman. Lalu Herman mengajak Rina berdiri. Lalu mereka berciuman sambil berdiri shhhhh...suara ciuman mereka sampai kekupingku aku terpancing, lalu menghampiri mereka. sambil jongkok dibelakang Rina, aku menciumi pantat rina sambil tangan ku meraba-raba memek istriku yang sudah basah.... merekaterus berpelukan sambil berciuman sementara aku menciumu pantat istriku..........
Tiba-tiba rina istriku menungging mengapai kembali kontol Herman dan dimasukannya kedalam mulut "acchhhhhh, Herman mengerang.... sementara aku menjilati memek Rina dari belakang, sekali jari-jariku keluar masukan kedalam memek RIna.

"yahhhhh... terus Mas... masukkan jarinya Mas... Rin... ga tahan...... terus... yang dalam......... Entot saya.... her..... Mbak Mau kontolmu... masukkan kontol kamu kedalam memek MBak..... aaaccchhh... ssssssssshhhh.."
Kami berganti posisi. Aku rebahan di kasur sementara istriku menungging sambil menjilati kontol ku..... dari belakang Herman sudah siap-siap memasukan kontolnya yang sudah tegang kedalam memek istriku.
Herman mengosok-gosokan kontolnya kebelahan memek istriku.
"yahhh.... masukan Her... Mbak sudah ga kuat....... entot Mbak Her... Puaskan Mbak....." pelan kepala kontol Herman mulai masuk kedalam memek Rina ...., "sssshhhh..." Rina menegang ketika kontol Herman yang sudah tegang pelan-pelan masuk kedalam memeknya istriku. Herman berhenti sebentar, lalu pelan kembali menekan kontolnya masuk kedalam memek Rina kembali .

Tubuh istriku bergetar.... ssshhhhh..... ohhhhhh... enak sekali her..... masukan terus yang dalam oooohhhhh hangat.... kontolmu hangat sekali Her........"
"yahhh...Mbak ?...memekmupun berdenyut Mbakk....." herman pelan menarik keluar kontolnya dan memasukannya kembali.
"Accchhhhh..... terus Her... yang kuat terus..... entot Mbak...... siram rahim Mbak dengan mani kamu....." Herman semakin memaju kontolnya dan semakin cepat...... mbakkk.... mau keluar Her......... oh... mBak ga tahan....
Mbak ga tahan......." istriku menggelepar-gelepar.

"Oohhhh... acccchhhh..... saya keluar.... saya keluar..... ahhhhhhhhhhhhhh........." istriku menegang, sementara Herman terus memaju kontolnya keluar masuk memek istriku. Istriku RIna tengkurap ditempat tidur nafasnya memburu, sementara Herman tetap diatas tubuh Rina dan membiarkan kontolnya tetap tertancap didalam memek istriku sambil merasakan denyutan memek Rina meremas remas kontolnya. Lalu pelan pelan Herman mencabut kontolnya dan kembali memasukannya.
Rina tersentak, "ohhh.... enak sekali kontolmu Her... ohhhh... terus... Her.... Mbak mau Lagi...... Mbak mau kontol mu lagi........... Mbak mau di entot berdiri..... Ayo..... Mas entot saya.... puaskan saya.........
Rina mau kontol kalian berdua...."

Rina berdiri di peluk Herman dari belakang sementara aku jongkok menjilati memek Istriku yang sudah sangat basah, sambil menjilati memek nya jariku masukan kedalam.
"Yaahhhh enak Mas... terus jilati memek Rin......" Herman dan Rina berciuman.... sementara aku terus menjilati memek Rina. Kontolku semakin menegang aku sudah ga tahan, lalu aku melebarkan kaki Rina sambil berdiri aku memasukkan
kontolku kedalam memeknya. Berdiri adalah posisi favorit istriku. Aku memutar-mutar pantatku sehingga jembutku bergesekan dengan itil bagi atas istriku.
"Oohhhh yyahhhhh.... kena mas... gesek-gesek terus... oohhhhh enak mas..... kontolnya..... ayoh Mas kita keluarkan sama-sama....... rina hampir.... achhhhh..."



Rina terus menggoyang-goyangkan pantatnya sambil berciuman dengan Herman sementara aku terus memacu kontolku semakin cepat. Herman terus meremas-remas tetek Istriku.
"Aachhhhhh.... oohhh.. aku keluar mas....... mbak keluar lagi Her...... ohh enakks..." Seeerrrr. Aku ikut menegang dan Crottttt......... kami berdua keluar bersama-sama.
"Ohhhhhh...." istriku terkulai dipelukan Herman.
"Achhhh.. ohhh.." aku mencabut kontolku dari memek Rina, sementara Rina masih terkulai dipelukan Herman. Kedua tangan Rina merangkul leher Herman. Kontol Herman masih sangat tegang karena memang dia belum keluar, "Sambil berbisik... Mbak aku mau entot mbak... aku belum keluar... ahhh. Apa masih kuat mbak...?" tetap merangkul Herman lalu istriku mencium bibir Herman, sambil bergayut dia melingkarkan kakinya kepinggang Herman.

"Blessssss...." masuklah kembali kontol Herman kedalam memek Istriku, sambil berdiri mereka berpacu mencapai puncak kenikmatan.
"Yahhhhh.... enak kontolmu Her..... terus masukan yang dalam... kontolmu hangat...... puaskan mbak" mereka berpacu semakin cepat.
"Her mbak gak kuat mau keluar lagi..... achhhhhh......"
"Iyah mbak aku juga mau oooohohhhh... achhhhhh... terus... mbak keluar..... ohhhhhhh crooottttachhhhhhh".
Kedua tubuh itu menegang dan berpelukan sangat eratnya.
Kami sangat puas sekali.

* TAMAT *

Download cerita dewasa ini??? klik disini
»»  Baca Selengkapnya...

» Read More...

Gairahku Dengan Mbak Yani

Cerita Dewasa - Setelah pindah dari rumah Tante Nita aku kos di daerah Taman Sari. Tempat kosnya cukup enak, lingkungannya juga cocok karena banyak mahasiswa. Tidak seperti di tempat Tante Nita, di tempatku yang baru ibu kosnya sudah tua dan sama sekali tidak menarik. Jadi aku sama sekali tidak berharap bisa menikmati hal-hal romantis dengan ibu kos di sini. Untunglah sebelum pindah aku dan Tante Nita sepakat tetap saling menguhubungi. Jadi kalau libidoku sedang tinggi aku langsung pergi ke wartel untuk bikin janji dengan Tante Nita, biasanya Tante Nita akan langsung menjemputku untuk pergi berkencan ke Lembang.

Tidak berapa jauh dari tempatku, ada seorang mahasiswi cantik. Angkatannya beda empat tahun denganku, kuliah tingkat akhir di Fakultas Hukum sebuah universitas swasta terkenal di daerah Taman Sari. Namanya sebut saja Yani, aku memanggilnya 'Mbak Yani' karena dia memang lebih tua dariku dan berasal dari Malang. Untuk ukuran cewek tingginya lumayan, kira-kira 165 cm, cuma beda 3 cm dariku. Rambutnya lurus panjangnya sedikit di bawah bahu, kulitnya putih dan bodynya bagus banget. Apalagi kalau sedang pakai jeans dan T-shirt, wow! Kalau dari skala 0 sampai 10 aku bisa kasih dia nilai 8,7 (Tante Nita cuma 6,8). Hanya sayangnya dia sudah punya pacar. Tapi sebagai tetangga kami cukup akrab, kadang aku main ke tempat kosnya sekedar untuk ngobrol dan nonton TV.

Suatu hari ketika aku datang ke tempat kosnya, aku lihat Mbak Yani sedang duduk termenung di depan kamarnya. Matanya terlihat sembab seperti habis menangis. "Lho Mbak, ada apa kok kayaknya baru menangis? Belum dikirimin duit yaa...?" aku mencoba mengajaknya becanda seperti biasa. Mbak Yani hanya menggeleng diam. Wah... kayaknya serius nih... akupun terdiam beberapa saat sambil mencoba mencerna situasi.

"Ya udah Mbak, aku minta maaf... kalau Mbak lagi pengen sendiri aku balik dulu ya..."
"Nggak apa-apa Don, kamu kalau mau nonton TV disini aja, nggak usah pulang... sekalian kamu temenin mbak ya.." katanya sambil mempersilahkan aku masuk.
Kasihan Mbak Yani, baru sekali ini dia kelihatan sedih sekali. Tentu ada persoalan yang cukup besar buatnya. Sambil nonton TV aku mencoba menghiburnya, "Mbak.. ada masalah apa? Cerita aja ke Doni... biar sedihnya nggak ditanggung sendiri. Aku sudah menganggap Mbak Yani sebagai kakakku sendiri kok."

Setelah terdiam beberapa saat Mbak Yani mulai bicara dengan suara menahan perasaan, "Aku baru putus sama Mas Ary... cowok sialan itu ternyata punya pacar lagi dan hamil..."
Pelupuk mata Mbak Yani tampak berkaca-kaca.
"Tega-teganya dia berbuat seperti itu, padahal sudah empat tahun kami pacaran dan aku tidak pernah sedikitpun mengecewakan dia. Apa semua cowok seperti itu Don?"
"Nggak semua begitu mbak... sudah lupakan saja semua yang sudah terjadi, Mbak Yani masih punya banyak waktu untuk memulai lagi yang baru. Masih banyak cowok yang baik dan pantas buat Mbak Yani..." kataku sambil memegang tangannya. Mbak Yani tampak mencoba tersenyum, manis sekali.

"Mbak gimana kalau kita jalan-jalan naik motorku... biar Mbak Yani nggak sedih terus gitu... kita minum bajigur di Jalan Supratman yukk," aku mencoba menawarkan jasa. Mbak Yani mengangguk setuju.
Kamipun meluncur ke Jalan Supratman. Itulah pertama kali aku mengajak Mbak Yani naik Honda GL-Pro kesayanganku. Kesedihannya perlahan mulai mencair dan Mbak Yani mulai banyak menceritakan kekesalannya pada Mas Ary, bekas cowoknya. Aku hanya mengangguk-angguk sambil terus memegang tangannya yang melingkar di pinggangku.

Sampai di warung bajigur di Jalan Supratman kami langsung mencari tempat duduk yang enak untuk ngobrol. Aku tahu Mbak Yani sangat butuh tempat untuk mencurahkan semua kekesalannya. Sambil kami menikmati bajigur dan gorengan Mbak Yani masih terus bercerita panjang lebar, aku jadi pendengar yang baik sambil sekali-sekali mengiyakan dan mencoba menghiburnya. Setelah Mbak Yani puas menceritakan semua uneg-unegnya kamipun pulang. Sepertinya Mbak Yani betul-betul terlepas dari beban kesedihannya, dia mulai bisa bercanda lagi seperti biasa. Sepanjang jalan Mbak Yani memeluk pinggangku dengan erat, kepalanya disenderkan ke punggungku. Aku senang sekali bisa membuatnya terhibur.

Sampai di rumah kira-kira jam 10 malam, aku mengantar Mbak Yani ke tempat kosnya. Saat aku mau pulang tiba-tiba Mbak Yani memegang tanganku, "Don, kamu jangan langsung pulang ya.. temenin Mbak nonton TV sebentar..." Aku mengangguk. Tidak seperti biasanya, kali ini Mbak Yani kelihatan begitu manja padaku. Di ruang TV ia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Ah.. ini kesempatan yang nggak akan datang dua kali pikirku. Sementara tangan kiriku memegang tangan kirinya, tangan kananku membelai-belai rambutnya yang lembut dan harum. Suasana malam itu menjadi terasa romantis. Perlahan-lahan naluri kelaki-lakianku mulai bangkit. Dengan lembut kucium pelipis Mbak Yani, dia diam saja tapi tangannya meremas tanganku.

Sekali lagi pelipisnya kucium, kali ini Mbak Yani membalikkan wajahnya dan menatapku. Tanpa pikir panjang aku perlahan-lahan mendekatkan bibirku pada bibirnya dan kami mulai berciuman. Bibirnya terasa hangat dan lembut sekali di bibirku. Mbak Yani melepaskan bibirnya, "Don.. nggak enak disini, kita di kamar aja ya..."
Kamipun masuk ke kamar dan Mbak Yani langsung mengunci pintu. Masih dalam posisi berdiri, sambil kubelai rambutnya kembali bibir kami saling melumat.

Tanganku perlahan-lahan mulai menjelajahi tubuhnya. Saat tanganku menyentuh payudaranya, Mbak Yani mendadak melepaskan ciumannya, "Don... jangan..." Tapi dari tatapannya aku merasa kalau Mbak Yani ragu, antara mau dan malu. Aku hanya tersenyum, lalu bibir kami kembali saling melumat. Kuulangi lagi tanganku menjalari tubuhnya perlahan-lahan hingga akhirnya sampai kembali di payudaranya. Kali ini Mbak Yani tidak menolak, malah bibirnya semakin kuat memagut bibirku dan lidahnya terus melilit lidahku. Perlahan-lahan kuremas payudaranya dengan lembut. Mbak Yani semakin erat memelukku dan tangannya juga mulai aktif menggerayangi punggungku. Satu demi satu kancing bajunya kubuka, tak ada tanda-tanda Mbak Yani melarangku. Akhirnya tanganku mulai berani masuk ke sela-sela BH-nya dari bawah.

Ah... betapa empuk dan hangatnya payudara gadis cantik ini. Payudaranya jelas tidak sebesar punya Tante Nita tapi yang pasti terasa lebih kencang dan mulus. Ketika jariku mulai menyentuh puting susunya yang mungil Mbak Yani mulai menggeliat terangsang. Perlahan-lahan kulepas baju Mbak Yani, lalu kemudian BH-nya. Akupun melepas bajuku sehingga kami berdua berciuman dalam keadaan telanjang setengah badan.

Mbak Yani kemudian mengajakku ke tempat tidurnya, ia langsung merebahkan diri dan menarik tanganku untuk berbaring di sebelahnya. Di atas tempat tidur, sambil bibir kami saling melumat, tangan kananku terus aktif memainkan payudara dan putingnya. Mbak Yani makin terangsang dan mulai berdesah-desah keenakan, "Ah...mmh...mmhhh..."

Kemudian tanganku mulai berpindah ke bawah, perlahan-lahan kubuka kancing dan resleting celana jeansnya. Tanganku mulai menyelinap ke balik celana dalamnya. Kurasakan bulu-bulu halus disekitar vagina Mbak Yani, kemudian jariku menemukan belahan vaginanya yang hangat dan mulai basah. Saat jari tengahku menyentuh klitorisnya, Mbak Yani mendesah kuat tertahan sambil memegang tanganku, "Mmmhhh.....uuuhh.."

Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

Kepalaku mulai turun ke bawah, ke arah payudara Mbak Yani. Sementara tanganku terus mengeksplorasi klitoris dan lubang vagina Mbak Yani, lidahku yang nakal mulai menjilati payudara dan putingnya. Kadang-kadang putingnya kuemut dan kuhisap sambil kupermainkan dengan lidah. Mbak Yani terus menggelinjang keenakan sambil tangan kirinya meremas rambutku sementara itu nafasnya terdengar mulai berat.

"Mbak, aku lepas semua ya...," kataku sambil melepaskan celana jeans dan celana dalam dari kakinya. Mbak Yani hanya diam pasrah. Aku lalu melepaskan celanaku sendiri sehingga kami berdua terbaring di tempat tidurnya tanpa sehelai benangpun. Sejenak kutatapi seluruh tubuh Mbak Yani, indah sekali. Lekuk tubuhnya nyaris sempurna dan mulus sekali tanpa cacat sedikitpun. Payudaranya yang berukuran sedang menyembul kencang dengan putingnya yang mungil berwarna sedikit lebih gelap dari kulitnya. Sementara itu di vaginanya tampak ditumbuhi bulu-bulu halus yang mencoba menutupi belahannya yang terlihat basah dan berwarna merah muda.

"Mbak Yani cantik sekali... indah luar biasa..," pujian spontan keluar dari mulutku. Mbak Yani hanya tersenyum malu, kulihat wajahnya yang putih berubah memerah. Ah.. Mbak Yani, sekarang nilaimu kutambah jadi 9!

Perlahan-lahan aku mengambil posisi di antara kedua kakinya. Kuangkat kaki kiri Mbak Yani dan betisnya kujilati, perlahan-lahan jilatanku bergeser ke lutut lalu ke daerah pahanya. Akhirnya sampailah aku di pangkal pahanya. Dengan lembut kusibakkan bulu-bulu halusnya dan jari-jariku mulai membuka belahan vaginanya, sehingga lubang vagina Mbak Yani dan klitorisnya yang mungil tampak jelas. Langsung kukecup vagina Mbak Yani dan kujilati liangnya dengan penuh semangat, sementara Mbak Yani tergolek pasrah sambil memejamkan mata. Aroma vagina Mbak Yani yang khas membuatku semakin bernafsu. Saat klitorisnya kupermainkan dengan lidahku Mbak Yani mendesah lagi dan menekan kepalaku dengan kedua tangannya, "Aahhh.. Doni... Mmhh..."

Tidak sampai 5 menit Mbak Yani mulai tidak tahan dan minta berhenti, "Stop dulu Don.. Mbak udah nggak tahan... nanti keluar, Mbak mau gantian, boleh?"

Aku melepaskan kepalaku dari selangkangan Mbak Yani dan pindah berbaring di sebelahnya. Mbak Yani bangkit memegang penisku dan langsung menjilatinya sambil tangannya meremas buah zakarku. Mbak Yani tidak membiarkan satu bagianpun dari penisku yang bebas dari jilatan lidahnya, semuanya dijilati habis mulai daripangkal penis sampai kepala penis dan lubangnya. Bahkan sesekali ia menjilati bola pingpongku sampai ke bagian pangkalnya sehingga menimbulkan rasa geli-geli nikmat yang luar biasa.

Setelah puas dengan lidahnya, ia mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Sambil bibirnya menghisap, Mbak Yani terus mempermainkan batang penisku dengan lidahnya. Luar biasa, tidak kusangka Mbak Yani yang cantik dan sehari-hari demikian sopan dan lembut ternyata sangat mahir dalam mempermainkan penis seorang pria. Pinggulku tanpa sadar mulai bergerak-gerak mengimbangi rangsangan Mbak Yani dan aku mulai mendesah-desah ke enakan, "Mmh... Mbak... enak Mbak... terusin Mbak..." Sementara aku menikmati oral Mbak Yani, tanganku menyelinap di bawah perutnya dan mulai menjelajahi selangkangannya. Aku langsung mengusap-usap klitoris Mbak Yani yang sudah sangat basah dan mengeras dengan jari tengahku.

Tidak berapa lama kemudian badan Mbak Yani terasa mulai bergetar tak teratur, ia langsung melepaskan penisku dan menarik tanganku dari klitorisnya. "Doni... masukin sekarang ya... Mbak hampir nggak tahan..," katanya sambil merebahkan diri di sampingku dengan nafas yang terengah-engah. Aku bangkit, Mbak Yani langsung mengangkat lutut dan membuka kakinya. Celah vagina Mbak Yani tampak sedikit terbuka dan sudah basah oleh cairannya sendiri.

"Mbak, kalau Doni keluar di dalam bagaimana?" tanyaku.
"Enggak apa-apa, Mbak baru selesai mens dua hari yang lalu jadi sekarang masih aman," katanya sambil tersenyum menantang. Ah.. Mbak Yani, tergeletak pasrah seperti itu membuatnya tampak seksi sekali dan aku menjadi sangat terangsang. Penisku terasa mengeras dan membesar siap meledak. Aku ingin segera menindih tubuhnya dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

Langsung kuarahkan penisku ke selangkangannya, perlahan kubuka bibir vagina Mbak Yani dan kepala penisku kuletakkan tepat di atas lubang vaginanya. Dengan dorongan yang perlahan tapi pasti masuklah seluruh penisku ke dalam lubang Mbak Yani. "Mmhh....," Mbak Yani mendesah perlahan sambil menggigit bibirnya. Gila, rasanya enak banget. Dibanding dengan punya Tante Nita jelas vagina Mbak Yani lebih fresh dan lebih sempit. Aku merasakan batang penisku dari pangkal sampai ujung seperti dicengkeram oleh dinding-dinding vagina Mbak Yani. Sambil kucium lehernya, kumasukkan penisku dalam-dalam dan kutahan beberapa saat untuk meresapi sensasi nikmat yang diberikan oleh vagina Mbak Yani.

Akhirnya pinggul Mbak Yani mulai bergerak-gerak meminta aku untuk menggesek-gesekkan penisku. Akupun mulai menggerak-gerakan pinggulku untuk menancapkan penisku berulang-ulang ke dalam vagina Mbak Yani. Sementara itu tangan kiriku menggenggam tangan kanan Mbak Yani dan tangan kananku meremas payudara serta mempermainkan putingnya. Mata Mbak Yani tampak terpejam dan bibir bawahnya terus digigit menahan nikmat. Kami berganti posisi berkali-kali, kadang Mbak Yani di atas, lalu kembali aku yang di atas.

Kira-kira setelah limabelas menit berlalu kurasakan gerakan Mbak Yani makin lama makin kuat dan desahannya makin sering serta nafasnya semakin berat. Sementara itu tangannya makin erat memelukku. Kelihatannya Mbak Yani sudah hampir orgasme dan akupun mulai merasakan dorongan yang sama... aku sudah hampir kehilangan kontrol.

"Doni.. mmhh... Mbak udah hampir keluar.."
"Doni juga Mbak, kita barengan ya..."
"Mmmh... Doni... Mbak nggak tahan lagi...Aaah..."
Pinggul Mbak Yani terasa menyentak-nyentak ke atas, akupun menusukkan penisku makin cepat dan makin dalam...sampai akhirnya kenikmatan puncak itu sudah tidak dapat kami tahankan lagi....
"Donii.... Uuuhhhh... aaahhhhh..."
"Mbak Yani..... Aaaaghhhh......"

Kupeluk Mbak Yani erat-erat dan diapun mencengkeram punggungku dengan sekuat tenaga, kami orgasme bersamaan dengan penisku tertanam dalam-dalam di vagina Mbak Yani sambil mengeluarkan seluruh isinya. Sebuah orgasme yang luar biasa nikmat. Kami berpelukan cukup lama sampai akhirnya aku mulai merasakan kelelahan akibat orgasme yang intens. Kukecup bibir Mbak Yani dan aku merebahkan diriku di sampingnya. Mbak Yani terlihat terengah-engah kelelahan, matanya masih terpejam dan mulutnya sedikit terbuka.



Kupandangi wajah Mbak Yani yang basah oleh keringat tampak begitu cantik dan seksi dalam kelelahannya. Tapi tiba-tiba kulihat ada air mata yang menetes dari kedua ujung matanya. Aku tersadar kalau aku mungkin telah melakukan perbuatan yang tidak seharusnya kulakukan. Aku telah mengambil kesempatan dari kerapuhan emosi Mbak Yani saat dia sedang patah hati...

"Mbak... Doni minta maaf mbak... seharusnya Doni nggak begitu sama Mbak Yani..," kataku sambil membelai rambutnya. Mbak Yani mengusap air matanya dan menatapku sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa Don, Mbak nggak nyesel melakukan ini dengan kamu. Mbak hanya teringat sama si Ary sialan itu. Mbak sudah menyerahkan segalanya sama dia dan sampai kami putus Mbak tidak pernah dengan orang lain selain dia. Tapi ternyata....,"
"Sudahlah... Mbak... nggak usah diingat lagi...," aku spontan meletakkan telunjukku di mulutnya supaya Mbak Yani tidak terus bicara mengenai bekas cowoknya.

Aku lega karena bukan aku yang menyebabkannya menangis, langsung kubelai lagi rambut Mbak Yani dan kukecup lembut bibirnya. Kubiarkan Mbak Yani merebahkan kepalanya di dadaku sambil kupeluk. Malam itu terasa begitu indah sekali, sayang sekali aku tidak bisa menginap di rumah Mbak Yani. Aku tidak ingin Mbak Yani diusir dari tempat kosnya gara-gara aku.

Sejak saat itu hubunganku dengan Mbak Yani menjadi semakin dekat, dan setiap ada kesempatan kami tidak segan-segan mengulangi lagi apa yang kami perbuat malam itu. Mbak Yani tidak pernah menyesalinya, apalagi aku. Tapi hubunganku dengan Mbak Yani tetap seperti adik-kakak, sekalipun sebenarnya aku mengharapkan bisa menjadi kekasihnya. Tampaknya Mbak Yani masih belum mau menjalin kisah asmara baru dengan siapapun. Hubunganku dengan Mbak Yani tidak berlangsung lama karena tujuh bulan setelah itu Mbak Yani lulus dan kembali ke Malang. Sebelum kami berpisah Mbak Yani sempat meneraktirku menginap semalam di Hotel Putri Gunung, Lembang. Katanya Mbak Yani mau punya kenangan indah denganku.

Kami menikmati malam terakhir itu dengan bersetubuh sepanjang malam sampai kami benar-benar lelah dan tertidur pulas hingga siang. Begitu bangun tidur kami langsung melakukannya lagi, di tempat tidur, di lantai, dan juga di bathtub. Kalau kelelahan kami hanya berbaring tanpa busana sambil berpelukan menunggu energi kami pulih kembali. Kami hanya keluar kamar untuk makan dan sekadar jalan-jalan di sekitar hotel, setelah itu kami kembali ke kamar untuk bercumbu, bersenggama, dan menikmati setiap detik kebersamaan kami yang terakhir. Kami pulang kembali ke Bandung dalam keadaan lelah dan benar-benar puas.

Lima tahun kemudian, aku menerima sebuah undangan perkawinan bertuliskan, "Kepada Adikku Tersayang...." Aku bersyukur ternyata kakakku yang cantik itu akhirnya menikah juga dengan pria pilihannya. Calon suaminya seorang pengusaha real-estate. Aku datang ke pesta perkawinannya di Malang dan memberikan selamat serta doa... Mbak semoga suamimu tidak pernah membuatmu menangis seperti dulu.

* TAMAT *

Download cerita dewasa ini??? klik disini
»»  Baca Selengkapnya...

» Read More...

Ibu Mertua Hot

Cerita Dewasa - Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.

Ibu mertuaku (Bu Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.

Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama Istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.

Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur (namaku).., Ibu kangen sekali denganmu, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku, dan untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, Buuu, Saya juga kangen sekali dengan Ibu, dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, Suuur, Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu, dan karena kaget dengan kata-kata itu, aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.

Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku, terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan, sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun Apelnya, walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta, kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya, lalu Istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya, maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun Apelnya.

Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku, pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi Budenya di kota Kediri, yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.
Lho, Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?, tanya ibunya.
Laah.., nggak usahlah Buuu, biar Mas Sur nemenin Bapak dan Ibu, wong nggak lama saja kok, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.

Tidak lama setelah istriku pergi, Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku, untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, Nak Suuur, kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana. Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.

Entah sudah berapa lama aku membaca koran, yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua tak kutemukan ada cerita dewasa disana, tak pula kutemukan list video bokep ( ya iyalahhhh …) dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang, dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, Buuu, ada apa buuu?. Dan dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, Nak Suuur, tolooong Ibuuu, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya. Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, Bagian mana yang sakit Buuu, dan ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya.

Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, Buuu, apa ada bagian lain yang sakit..?
Nggak ada kok Suuur, cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit.., jawabnya.
Ooh, iya nak Suuur, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya.
Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih, kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, Ayooo..lah nak Suuur, nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan, tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu, ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan.

Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, Bagaimana Buuu, apa bagian ini yang sakit..?
Betul Nak Suuur, yaa yang ituuu, tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku. Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, Nak Suuur, tolong agak ke atas sedikit ngurutnya, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.

Ayoo,doong, Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.
Iii, yaa, Buuu maaf, tapi, Buuu, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.
aah kenapa sih Nak Suuur..?, kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.
Buuu, Saa, yaa, saayaa, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

Nak Suuur.., katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan, dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, ssshh, ssshh. Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.
Buuu, Saayaa, dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, Nak Suuur, koook seperti anak kecil saja.., siiih?.
Buu, Saa, yaa, takuuut kalau nanti bapak datang, sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar, sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, Nak Suuur, Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti, tolong Ibuuu, naak,terdengar seperti mengiba. Entot ibu nak suurrrrr … ibu sudah tak tahan pengen telanjang bugil dan dientotin…….

Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti para pembaca pun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini, tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri, tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.
Ayooolah Nak Suuur, tolongin Ibuuu, Naak, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.
Buuu, biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk, tetapi ibu mertuaku malah menjawab, Nggak usah naak, selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas. Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja, sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.
Buuu, boleh saya bukaa, rok Ibu..? tanyaku minta izin.
Suuur, bol, eh, boleh, Nak, Nak Suur, boleh lakukan apa saja.., katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas, lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan. Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, Buuu, boleh saya pegang dan ciumi tetek, Ibuu..?

Bool, eh, boleh, sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu, ayoo.., sayaang, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap, serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, ssshh, aahh.., sayaang, ooohh, teruuus, yaang, tolong puasiiin Ibuu, Naak, dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.

Naak Suuur, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya, Ibuu, ingin melihat punyamu, Naak, seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.
Iyaa, Buu, saya buka celana dulu Buuu, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar, Nak Suur, besar betuuul, dan keras lagi, ayooo, dong cepaat.., dibuka celananya, agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.

Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, Aduuuh, Suuur, besaar sekali, padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, ssshh, aahh, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.
Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

Aduuuh, Buuu, sakiiit, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku, langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.

Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya, pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Rupanya dia jago ngisep kontol. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, ssshh, aacccrrr, ooohh, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.

Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya, padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur, dia menarik bahuku untuk mengikutinya. Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, Naak Suuur, Ibu juga kepingin punya ibu dijilati, dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, Buuu, apa boleh, saya lakukan?, dan segera saja ibu menjawabnya, Nak Suuur, tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu, naak, ibu sudah lama kepingin di gituin.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi, setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan ku lepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi, sehingga kudengar suara ibu mertuaku, Nak Suuur, tolooong, cepaat, saa.., yaang, ayooo, Suuur.

Tanpa kujawab permintaannya, aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, Cepaat, Suuur, ibu sudah nggak tahaan.

Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, ssshh, aahh, Suuur, teruuus, adduuuhh, enaak, Suuur, Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, Aahh, ooohh, Suuur, betuuul, yang itu, Suuur, enaak, aduuuh, Suuur, teruskaan, aahh, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya. Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, aahh, oooh, duuuh, Suuur, ibuu, mau.., mauuu, sampaiii, Naak, oooh, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.

Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, Naak Suuur, ke siniii, saayaang, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu, ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, Suuur, Ibu puas dengan apa yang Nak Suuur, lakukan tadi, terima kasiih, Naak. Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, Buuu, saya sayang Ibuuu, saya ingin ibu menjadi, puu..aas.

Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, Naak Suuur, Ibu masih belum puas sekali, Suuur, tolooong puasin ibu sampai benar-benar puaas, Naak, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya. Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya, aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, Sayaang, ayooo, tolooong Ibu dipuasin lagi Suuur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu.
Buuu, seharusnya saya tidak boleh melakukan ini, apalagi kepada Ibuu,sahutku di dekat telinganya.
Suuur, nggak apa-apa, Naak, Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak, lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suuur, katanya dengan suara setengah mengiba.

aahh, biarlah, kenapa kutolak, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, Buuu, maaf yaa., saya mau masukkan sekarang, boleh?.
Suur, cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, Aduuuh, Suuur, pelan-pelan saayaang, ibu agak sakit niiih, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan. Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, Maaf Buu, saya sudah menyakiti Ibu, maaf ya Bu. Ibu mertuaku kembali menciumku, Tidak apa-apa Suuur, Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur.., sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

Buuu, saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa, kalau ibu merasa sakit, sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, Buuu, sakit.., yaa?. Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, Suuur, masukkan saja sayaang, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, Bleess, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, Aduuuh, Suuur, sambil mencengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.
Buuu, sakit yaa..? maaf ya Buuu. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.
Enggak kok sayaang, ibu hanya kaget sedikit saja, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, Suuur, besar betul punyamu itu.

Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, ssshh, oooh, aahh, sayaang, nikmat, teruuuskan, Naak, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya. Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, Buuu, aahh, punyaa Ibu juga nikmat, buuu, sambil kuciumi pipinya.

Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, Aah, Suuurr, ooh, teruus, Suur. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya. Aku tersentak kaget, Buuu, kenapa? apa ibu capeeek?, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, Suuur, coba hentikan gerakanmu itu sebentar.
Ada apa Buuu, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.
Suuur, kamu diam saja dan coba rasakan ini, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, Buuu, aduuuh, enaak, Buu, teruus Bu, oooh, nikmat Buu, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.
oooh, aah, Suuur, enaak Suuur, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.

Mengetahui nafas Ibu serta goyangan pantat Ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, Kenapa, Suuur, kok berhenti?, tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.

Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku, sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini, segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, Suuur, aduuuh, punyamu masuk dalam sekali, naak, aduuuh, teruuus sayaang, aah, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat. Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, Ooohh, aahh, Suuur, enaak, terus, tekan yang kuaat sayaang.

Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, Buuu, coba ibu tengkurap dan nungging, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging, Aduuh, Suuur, kamu kok macem-macem sih, komentar Ibu mertuaku. Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, Aduuuh Suuur, oooh, dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, oooh, oooh, Suuur, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, Suuur, Ibu capek Naak, sudaah Suuur, Ibuu capeeek, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.

Tanpa mempedulikan kata-katanya, segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, Suuur, jangaan, kuat-kuat Naak, badan ibu sakit semua, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.



Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, Maaf, Buu, kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan, segera saja ibu berucap, Suuur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo, Suuur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas.
Iyaa, Buuu, saya akan coba lagi, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.

Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, ooohh, aahh, Suuur, teruuus, oooh, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.

Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, Nak Suuur, aduuuh, Ibuuu, sudaah, oooh, mauuu kelluaar. Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, Bagaimana, Buuu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, Buu, saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, Jangaan, Suuur, jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuuu, jangaan dicabut dulu, yaa, sayaang, terus kembali menutup matanya.

Mendengar permintaan ibu itu, aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, Tidaak, Buuu, saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, Aduuuh, oooh, Buuu.
Kenapa, sayaang, enaak yaa?, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, Buuu, enaak sekaliii, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, oooh, aah, Suuur, teruuus, naak, aduuuh, enaak sekali.

Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, Buuu, sebentar lagi, sayaa, sudaah, mau keluaar, sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks, ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, Suuur, teruuuss, Naak, Ibuuu, jugaa, sudah dekat, ooohh, ayooo Suuur, semprooot Ibuu dengan airmuu, sekaraang.
Iyaa, Buuu, tahaan, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

Setelah nafas kami berdua agak teratur, lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.
Buuu, apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?, tanyaku.
Mungkin saja Suuur, kenapa Suuur?, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.
Buuu, kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia, ibu hanya diam dan seperti berfikir.
Setelah diam sebentar lalu kukatakan, Buuu, sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel, sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang Istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh, karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjung rumah kami.

* TAMAT *

Download cerita dewasa ini??? klik disini
»»  Baca Selengkapnya...

» Read More...

Mertua Pengganti Istri

Cerita Dewasa - Cerita ini benar-benar saya alami sendiri dan sangat menjadi beban bagi saya sampai sekarang, dimana setiap kali hal ini terjadi dibarengi dengan penyesalan, tapi saya tidak kuasa keluar dari masalah ini, habis enak sih. Oke lah, cerita ini bermula dari setahun yang lalu sampai sekarang, dimana dapat dibilang telah empat tahun saya menikah dengan Dian istri saya. Umur saya sekarang sudah 32 tahun, dan masih segar, pantasnya dibilang orang masih berumur 25 tahun dilihat dari wajah. Maklum, imut-imut padahal tinggi badan sudah 175 cm dengan berat badan 67 kg, dangan kulit sawo matang, karena saya asli orang melayu.

Saya mempunyai mertua yang sangat perhatian dengan semua aktivitas saya dan Dian istri saya. Istri saya adalah anak tunggal dari keluarga yang dapat dikatakan kehidupannya lumayan mewah. Tidak heran sewaktu saya menikahi Dian langsung diberikan satu mobil Mercy yang masih keluaran baru, sedangkan saya hanya karyawan Swasta perusahaan Asing di bidang Export-Inport dengan jabatan sebagai Finance manager. Dimana di perusahaan tempat saya berkerja pemegang saham terbesar dari Indonesianya adalah mertuaku, jadi memang saya berkenalan dengan anak dari pemegang saham terbesar di perusahaan saya berkerja. Saya berkenalan pada saat saya ada urusan penting dengan Pak Sutedjo, tentu nama samaran mertua saya.

Karena adanya pengembangan perusahaan dengan skala International, yang waktunya saat itu sudah sangat mepet, maka saya langsung saja ke rumah Pak Sutedjo di kawasan elit perumahan di Pondok Indah. Sewaktu saya masuk ke rumah itu, di situlah saya bertemu dengan Dian, dan dia mengajak saya mengobrol di teras rumahnya sambil menunggu Pak Sutedjo sedang mandi.

Setelah urusan kantor selesai, saya semakin dekat dengan Dian dan pacaran selama 1 tahun dan langsung menikah. Sampai sekarang kami dikaruniai 2 orang anak, dan kami masih tinggal di rumah mertua, maklum karena istri saya adalah anak semata wayang. Saya harus mengalah tinggal di rumah mertua atau ‘Pondok Mertua Indah’ istilah sekarang.

Okey, kita langsung saja pada inti ceritanya. Waktu itu keadaan cuaca malam yang sangat sejuk dan ditambah rumah full AC semakin menambah dinginnya malam itu. Saat itu Dian istri saya sedang pergi berlibur dengan anak-anak ke Bali. Saya tidak ikutan pergi karena masih ada urusan kantor yang tidak dapat ditinggalkan, dimana saya sudah diangkat menjadi salah satu Direktur bagian pengembangan, sedangkan mertua perempuan saya tidak ikutan karena kurang enak badan, jadi yang pergi hanya Dian istriku beserta kedua anakku ditemani 2 orang adik perempuanku.

Malam ini terasa dingin sekali. Biasanya disaat cuaca begini libidoku akan meledak-ledak, dan repotnya adalah Dian istri saya saat ini tidak ada disini, sampai pening saya menahannya. Sambil mengenakan baju tidur, saya mengarah ke kamar tempat tidur. Tapi sewaktu saya mau masuk ke kamar, terdengar suara panggilan mertua memanggil saya.
“Jach.., kamu udah tidur belon..?” tanyanya.
“Belon Bu..” jawab saya sekenanya.
Saya pikir Bapa mertua saya ada di rumah, maka saya mengambil keputusan tidur saja.

Tidak lama Ibu mertua saya memanggil lagi.
“Jach.., kamu suruh si Joko supir kita masukin mobil, karena tidak jadi Bapa datang dari USA. Katanya masih ada urusannya di sana.”
Saya pun memanggil si Joko dan menyuruhnya memasukkan mobil ke dalam garasi. Setelah itu mertua saya memanggil saya lagi, “Jach.., kamu udah makan belon?”
“Udah Bu.” kata saya.
Tidak sampai disitu, dia juga menanyakan sudah minum susu apa belum. Memang dengan perhatiannya yang terlalu berlebihan itu kadang membuat saya jengkel, itu lah mertua saya yang sangat perhatian dan penyayang.

Sebelum tidur saya pikir lebih baik saya menonton televisi, kebetulan ada film enak di SCTV. Saking asyiknya saya menonton televisi, saya kaget waktu Ibu mertua saya menegur dari belakang.
“Eh.., Ibu belon tidur..?” sapa saya padanya sedikit gugup.
“Ini Jach, badan saya terasa ngilu dan kepala saya pusing, Jach tau nggak mijit..?” tanyanya.
“Ya tau sih nggak terlalu, tapi kalo sekedar sih bisalah,” jawab saya.
“Ya udah kamu tolong Ibu dong pijitin..!” pintanya sambil duduk di sebelah saya.
Dengan sedikit malas-malasan saya bangkit dari tempat duduk saya, dan sekarang ibu mertua saya duduk di karpet sambil menonton televisi. Saya duduk di sofa sambil memijat kepalanya dan lehernya.

Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
Perasaan saya belum ada yang ganjil dan masih tetap normal, tapi entah setan apa yang datang yang menghinggapi diri ini, sewaktu saya memijat lehernya terlihat oleh mata saya secara jelas buah dadanya yang masih sekal dan mancung. Saat itu Ibu mertua saya hanya mengenakan daster tipis. Saya sangat penasaran saat itu, karena setelah saya mencuri-curi pandang ke buah dadanya, saya sedikit tersentak. Waktu itu terlihat oleh saya samar-samar kalau dia tidak menggunakan apa-apa lagi di balik dasternya. Memang dalam situasi begini siapa pun orangnya kalau masih laki-laki normal pasti akan naik nafsu melihat pemandangan yang beginian.

Tangan saya mulai saya turunkan memijat ke pundaknya, dan sewaktu memijat lengan atas tangannya, saya agak menyenggol sedikit buah dadanya dan terasa sangat lembut dan kenyal. Semakin saya senggol, dia semakin gelisah, dan disaat saya melakukan penyenggolan, saya perhatikan tidak ada seperti perasaan curiga. Saat itu juga saya berusaha mendekatkan bibir saya ke daerah tengkuknya dan menghembuskan nafas yang dapat menggelikan sekaligus menaikkan nafsunya. Sedikit agak berat nafasnya terdengar. Tidak habis sampai disitu usaha saya, saya berusaha menempelkan tangan saya ke payudaranya dan memijatnya dengan lembut.

“Akh.. ssh.. Jach..!” terdengar suara Ibu mertua saya dan mengagetkan saya sejenak.
Secepat kilat dia memutar dan menghadap ke saya sambil berdiri dan memeluk kepala saya. Kemudian dia menciumi wajah saya dan dikulumnya bibir saya sambil berbisaik, “Jach.. kita ke kamar yo..!”
Cepat-cepat saya gendong tubuhnya ke kamar, dan langsung saya telanjangi. Kebetulan dia hanya mengenakan daster, tinggal saya bukakan pakaian saya sendiri. Kami sekarang sudah dalam keadaan telanjang bulat.

Kami bergulat dengan ganas di atas tempat tidurnya. Saya mencumbu Ibu mertua saya sendiri. Ibu mertua saya juga tidak sabaran dan langsung mengarahkan batang kemaluan saya ke lubang vaginanya yang belum sempat saya garap, maklum orang kampung kebiasaan main begitu, langsung to the point saja. Terpaksa saya melayaninya secepat itu, dan sewaktu penis saya mulai tenggelam ke dalam vaginanya, terasa agak dipijat-pijat.
“Akh.. akh.. huss.. terus..!” desahnya saat itu.
Saya mendorong sedikit, dan “Bless..!” tenggelam seluruh batang kemaluan saya ke dalam vaginanya.

“Akh.. akh..!” lenguhan Ibu mertua saya sewaktu ujung penis saya menyentuh dinding rahimnya.
Pelan-pelan batang kemaluan saya mulai saya maju mundurkan.
“Akh.. ah.. huss.. terus..!” desahnya.
Saya melaju dengan pelan dan lembut. Tidak berapa lama Ibu mertua saya mulai mengimbangi dari bawah.
“Terus.. terus.. Jach.., aduh nikmatnya, enak kali punya kamu. Beruntung Dian memilikimu..,” itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya, pujian dari mulut orang yang saya hormati selama ini.

10 menit sudah kami saling berpacu. Tidak puas dengan gaya pertama, kami melanjutkan ke gaya kedua. Sekarang dia meminta posisinya berada di atas. Hebat benar dia, saya langsung saja mencabut dan tidur telentang. Sekarang dia mengangkangi batang penis saya dan mengarahkannya ke vaginanya.
Kemudian, “Husst.. akh.. bless..!” masuk semuanya tanpa sisa.
Saya merasakan seakan-akan terbang ketika digoyangnya pinggangnya dengan liar.
“Plek.. clok.. kuclok..!” begitulah terdengar suara dari hasil peraduan antara paha saya dengannya.

30 menit sudah kami melakukannya, sekarang saya memangku dengan pisisi duduk saling berhadapan. Kami mengejar kenikmatan yang sangat dalam saat itu (cuaca saat itu sangat mendukung). Kepala batang kemaluan saya ngilu rasanya. Ibu mertua saya sudah mulai liar, rupanya dia sudah mulai mencapai orgasmenya yang ke tiga kalinya, sehingga mulai banjir lagi dan terasa semakin licin dan geli terasa dinding vaginanya memijat-mijat penis saya.



Hanya berjalan sebentar, terasa sudah berada di kepala penis saya lahar yang mau menyembur.
“Crot.. crot.. cret..!” saya semburkan air kenikmatan saya ke dalam rahimnya yang dulunya tempat berdiamnya Dian istri saya.
Sebentar kami terdiam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang barusan kami capai.

Setelah kami istirahat setengah jam, kami mandi bareng ke bathup. Kami melakukannya sekali lagi di kamar mandi dan 2 kali lagi di malam hari, di tempat tidur mertua saya. Begitulah kami melakukannya selama Dian istri saya berada di Bali. Dan sekembalinya mereka dari Bali saya langsung menyetubuhi Dian, karena saya waktu itu sempat terangsang dengan Ibu mertua saya. Ternyata Ibu mertua saya saat itu mengetahuinya. Pagi-pagi Dian memberi kode yang sudah kami sepakati dulu. Kami melakukan dengan hati-hati, takut nanti berabe. Sampai saat ini kami masih melakukan 1 kali 2 hari.

* TAMAT *

Download cerita dewasa ini??? klik disini
»»  Baca Selengkapnya...

» Read More...

Pemerkosaan di Kost

Cerita Dewasa - Sudah lama aku dan beberapa temanku mengincar sebuah kost putri yang masih baru didaerahku. Daerah dekat kampungku terdapat perumahan yang masih tergolong baru dan tempatnya cukup terpencil ditengah sawah yang kebetulan belum banyak berpenghuni. Hanya ada 5 rumah yang baru dibangun, dan yang ditempati baru satu dan itupun ditempati oleh 4 orang cewek yang kebetulan kost disitu. Kami sering memperhatikan mereka pada saat mereka sering lewat membeli barang kebutuhan dikampungku. Mereka semua cantik cantik dan putih. Belakangan kami mulai mengenal nama nama mereka. Mereka semua berasal dari luar daerah yang baru masuk kuliah semester pertama.

Suatu malam pada saat aku ,Joni,Bram,Agung sedang minum minuman keras salah seorang cewek penghuni kost yang bernama Tia baru saja melewati kami memakai kaos ketat dan celana pendek. Timbul pikiran jahat dibenakku dan kucetuskan pada teman-temanku.
"Wah Jon....cakep dan sexi juga ya penghuni kost itu..?" pancingku.
"iya tuh..sexi banget....wah sayang karena orang kayak kita kan bisanya cuman
ngeliat aja..."
Bram pun menimpali " Bener cewek gitu ga bakalan mau sama orang kayak kita kita Jon.."
Lalu aku kembali memancing mereka.."Klo emang ga mau kenapa gak kita perkosa aja sekalian rame-rame..kan bukannya dia juga ga bakalan jadi milik kita....?"
"Gila loh ....entar dipenjara gimana..?" sahut Agung.
"Ga bakalan ..... asal tahu caranya bro..." Sahutku
"Maksud loe gimana jack..?" Tanya Bram.

Aku mengeluarkan sebuah handycam dari tasku dan beberapa tutup kepala yang memang sudah lama aku siapkan
"Ini nih jurus ampuh memperkosa tanpa takut dilaporkan kepolisi..mau tahu caranya..?" Aku berkata kepada Agung "Kamu bisa gunakan ini kan..Gung.?" Agung tersenyum simpul dan mengangguk. "Jadi kita gunakan kamera ini saat kita memperkosa mereka dan kita gunakan sebagai ancaman klo mereka berani melapor..!!!!" Dan aksi itupun tak lama akan Dimulai......

Waktu menunjukkan pukul 22.30, perlahan kami satu persatu memanjat dinding belakang kost putri yang tidak terlalu tinggi itu. Pelan pelan kubuka pintu dapur yang tidak terkunci dan menuju kedalam pelan pelan diikuti oleh teman temanku. Aku melihat hanya ada 2 motor yang terparkir berarti hanya ada dua penghuni kost saat ini.
Darahku terkesiap ketika melihat salah satu kamar tidak terkunci dengan pintu sedikit terbuka, aku melihat tia sedang tidur dengan paha mulus putihnya yang terbuka. Aku segera membagi 2 kelompok masing masing dua orang. Aku dan Agung memasuki kamar Tia dan kelompok kedua Bram dengan Joni mengetuk kamar Heni.

Bram mengetuk kamar Heni perlahan..rupanya Tia terbangun terlebih dahulu karena kamar mereka bersebelahan. namun aku dan Agung sudah bersiap dan segera menempelkan golok dileher Tia. "Diem lo jangan bertingkah..!!!!!!" Tia terkejut dan masih terdiam. "Coba panggil temen kamu yang masih tidur dari sini..!!" wajah Tia pucat dan dengan gemetar memanggil temannya, "Hen...bangun Heniii...tolongin gue Heenn..." panggil Tia dengan suara gemetar. Sementara Bram masih mengetuk kamar Heni.

Tak lama pintu dibuka dan Bram langsung menyergap Heni sambil menempelkan goloknya pula.Heni terkejut dan langsung pucat, dia tidak berani berteriak.
"Ringkus dan ikat dia dengan lakban Bram..!! Biar dia menikmati tontonan gratis antara aku dan temannya ha..ha..ha..." perintahku.
Setelah Heni diringkus oleh kedua temanku, aku segera memakai topengku dan memberi isyarat ke Agung supaya menyalakan handycam.
Tia semakin pucat dan mulai memohon "Ampun bang ...tolong jangan perkosa kami..ini kami ada sedikit uang untuk Abang..ambil semua yang Abang mau tapi tolong jangan perkosa kami bang.." Kata Tia hampir menangis.

Aku tampar wajah Tia, "Diem loh jangan berisik..!!" lalu mendorong tubuh mungil Tia keatas tempat tidurnya yang indah. Tia mulai terisak, aku tak perduli.
Aku segera meraih daster tipisnya dan kurobek dengan kasar. Tia mencoba berguling kesamping sambil menutupi daerah dadanya sambil menyembunyikan wajahnya yang manis. Aku segera meraih tubuhnya dan kutelentangkan dengan paksa. Aku membuka silangan tangan didada Tia dan dengan kasar sekali lagi aku merobek BH Tia yang hanya berukuran 32 B.Tampaklah kedua bukit indah yang mungil dengan puting susu yang memerah.

"Singkirkan tangan elo sekarang atau gua pukul lagi kamu..!!" perlahan lahan Tia menurut. Aku mulai meremas dan menciumi buah dada indah itu, sementara Tia masih terisak.Heni yang terbelenggu dipaksa kedua temanku untuk melihat semua kejadian itu. Aku membuka seluruh pakaianku, dan aku menjambak rambut Tia sehingga wajahnya terangkat.

"Nih kulum penis gue..awas klo ga mau gue bunuh kamu sekarang juga..!!!" Kataku
Tia menurut.. Oooh betapa nikmat rasanya ketika mulut mungil berbibir tipis itu mulai mengulum penisku. "Heh..setan!! Awas jangan kena gigi elo rasanya sakit tahu...!!!" aku memaklumi karena mungkin Tia baru pertama kali ini mengulum penis seorang cowok. Dan aku segera memaju mundurkan wajah Tia dipenisku dengan menjambak rambutnya. Tanpa membuang waktu lagi aku segera memerintahkan kedua temanku untuk melepaskan Heni dan membuka lakban dimulutnya. Aku memerintahkan Heni supaya masuk keranjang dimana Tia sedang mengulum penisku.
Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem

Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Seks, Cerita Hot, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Seru, Cerita 17 tahun, Cerita Lucu, Cerita Serem
"Buka bajumu...dan jilat vagina temanmu ini..awas kalau tidak mau menurut gue bunuh kamu sekarang juga..!!' Kataku. Bram dan Joni terkekeh melihatku.
"Bisa aja kamu jack..wah wah..wah sekali dapet dua lalat nih ayo terusin jack..!!"
kata mereka.
Agung masih menyorot semua kejadian itu dengan handycamku.
Bram dan Joni mulai melepaskan semua pakaian mereka dan mengocok penis mereka , rupanya mereka juga terangsang melihatku.

Seperti perintahku setelah aku mengatur posisi sedemikian rupa, heni mulai menjilati vagina Tia dengan ragu-ragu. "Ayo yang mesra jilatin vagina Tia..!! Kalau tidak bisa kupotong lidahmu ..!!" gertakku. Heni menuruti kata kataku. Wajahnya semakin pucat dan hampir menangis. Setelah dia menjilati vagina Tia, rupanya kuluman tia pada penisku mulai kacau, oleh sebab kenikmatan yang ditimbulkan Heni pada vaginanya. Aku tersenyum melihatnya.

Birahiku segera memuncak dan segera ingin meperkosa vagina milik Tia yang terlihat sempit itu. Kemudian aku menyuruh tia untuk berhenti dan tidur terlentang. Aku menyuruh Heni untuk meletakkan vaginanya diatas mulut Tia.

"Nah sekarang gantian elo yang jilatin vagina milik Heni..jangan mau enaknya saja ya..!!" Tia pucat tapi dia menurut. wajah Tia terbenam diselangkangan milik Heni sementara mereka semua hanya terdiam ketakutan menuruti perintahku. Aku memposisikan penisku divagina Tia, sambil terus berusaha menyodok vaginanya aku terus meremas dan menciumi buah dada Heni yang berukuran sedang dan indah pula.

Lubang Tia masih terasa begitu sempit, walaupun terlihat kesakitan dia masih terus berusaha menjilati vagina Heni. Lubang milik Tia sudah basah akibat jilatan Heni tadi, dan Drrrt..drrt..drrt.aku segera memompa memasukkan penisku dalam vagina perawan milik Tia. Sempit sekali rasanya sehingga menimbulkan sensasi nikmat yang luar biasa dipenisku.

"Aah..tolong sudah bang sakit bang...aduh..sakit bang..tolong...!!" Jerit Tia
Bram segera mendatangi Tia dan menampar mulutnya ..PLAK..!!!
"Diem Loe dan jangan coba coba bersuara lagi..!! Jilatin terus memek temen kamu itu!!!" kata Bram.
Air mata Tia tak dapat dibendung lagi menahan perih, dan aku semakin tak peduli. Semakin cepat aku memompa penisku dalam vaginanya, sambil aku terus meremas dan mencium buah dada Heni yang vaginanya masih terus dijilatin oleh Tia.

Sepuluh menit kemudian .....Crrooot ! spermaku tumpah didalam vagina Tia. Aku mengentikan aktivitas penisku didalam vagina Tia. Terasa berdenyut denyut nikmat dinding vagina Tia. Sementara aku berhenti kini rupanya giliran Heni yang tiba tiba mengejang ...rupanya dia juga mengalami orgasme karena jilatan Tia pada vaginanya.

Melihat hal itu aku jadi kembali terangsang dan penisku bangkit berdiri lagi. Aku menyuruh mereka bertukar posisi. Sekarang posisi Tia ditempati oleh Heni begitu pula sebaliknya. sekarang vagina Tia-lah yang dijilatin oleh Heni. Darah keperawanan Tia masih meleleh dipahanya bercampur spermaku. Aku merintahkan Heni untuk menjilati bersih sperma bercampur darahku dipaha Tia. Heni yang ketakutan itu hanya menurut sambil menangis, sesekali terlihat dia seperti mau muntah namun ditahannya.

"Awas klo elo sampai muntah gue keluarin semua isi perut eloe..ngerti..?" ancamku pada Heni. Gadis itu semakin ketakutan.
Kini penisku sudah berada dibibir vagina Heni, sementara Heni masih menjilatin vagina milik Tia yang baru saja kehilangan keperawanannya , aku terus mencumbu dan meremas dada Tia.

vagina Heni rupanya memang lebih sempit, aku sampai kesulitan beberapa kali membobol keperawanan miliknya. Sampai aku akhirnya benar-benar memaksa penisku barulah aku dapat menembus vagina Heni. Jujur saja ketika memerawani Heni penisku agak sakit karena memang vagina Heni lebih sempit dari vagina milik Tia. Setelah beberapa saat setelah penisku berada dalam vagina Heni yang sudah berdenyut dari sejak awal perawannya kubobol, aku mulai menggerakkan penisku maju mundur . Gilaaa...!! vagina Heni lebih nikmat dari vagina Tia karena memang bentuk tubuh Heni lebih kecil dari bentuk tubuh Tia.

Setengah jam aku memompa vagina Heni sampai akhirnya aku memuntahkan spermaku jauh labih banyak daripada spermaku di vagina Tia. Setelah aku menghabiskan spermaku diliang vagina Heni , aku meyuruh Tia untuk kembali mengulum penisku membersihkan sisa darah keperawanan Heni yang masih melekat di penisku.



Lalu aku berpaling kepada ketiga temanku yang sudah menunggu dengan telanjang dan masing masing penis yang sudah ngaceng.
"Bagaimana..?'' Tanyaku......"
"Hebat Jack.......sampai sampai gue ama Joni udah ga tahan niiih...!!!" Kata Bram
"sabar..sabar dulu ya kalian pasti akan menerima bagian masing masing.."
"biar mereka bersihkan vagina mereka dahulu ....ya..?" Kataku
Bram sudah tidak sabar lagi, namun aku mencegahnya.
"Coba lihat dulu ini..."

Lalu aku segera memerintahkan kedua gadis itu untuk saling menjilati vagina temannya hingga bersih.
Bram tertawa lebar"ha.ha..ha..betul juga maksud elo jack..masa kami dikasih bekas kecap elo...ha..ha..ha"
Setelah mereka melihat kedua vagina milik heni dan Tia sudah terlihat bersih dari spermaku dan ceceran darah keperawanan mereka yang masih menempel dipaha. Bram dan joni segera menyergap dan meperkosa kedua gadis malang itu, dilanjutkan dengan acara bertukar pasangan dan tak ketinggalan pula Agus sang 'kameramen' yang merekam semua adegan pemerkosaan itu.

Setelah hari menjelang subuh kami menguras seluruh harta kedua gadis itu termasuk motor ATM dan nomer Pin serta perhiasan yang tidak sedikit jumlahnya. Maklum sepertinya mereka anak orang kaya. Sebelum meninggalkan mereka aku sempat mengancam, kalau berani macam-macam, adegan pemerkosaan itu akan kami sebarluaskan. Setelah itu kami semua pergi meninggalkan mereka hingga beberapa bulan lamanya.

Rupanya rahasia itu masih tersimpan rapi oleh mereka, karena setelah sekian lama kami merantau dan memutuskan untuk pulang kampung ternyata tidak ada tanda tanda bahwa kami dicari oleh pihak kepolisian. Hanya saja Tia dan Heni sudah tidak bertempat tinggal dikostnya lagi, rupanya mereka telah pindah.

* TAMAT *

Download cerita dewasa ini??? klik disini
»»  Baca Selengkapnya...

» Read More...

Pengikut

Langganan Cerita

Masukkan Alamat Email untuk Berlangganan Cerita Terbaru: